Teknik Informatika : How To Find The Passion (Of Coding)

Menurut finansialku.com passion adalah sesuatu yang tidak pernah membuat kita bosan untuk melakukannya. Tentu bukanlah suatu perjalanan dan proses yang mudah untuk menemukan hal tersebut. Lulus dari SMA, masuk ke universitas yang diinginkan, dan erhasil ada di jurusan yang diimpikan. Perjalanan menemukan passion tidak akan berhenti sampai disitu. Jangan bernapas lega, dan berleha-leha, jalani masa kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga bisa mengetahui dengan benar apa yang diinginkan, apa passion yang sebenarnya ada di dalam diri sendiri. Jangan berpikir dan menetapkan passion hanya karena sebuah mayoritas, ikut-ikutan teman.

Dalam dunia informatika pun menemukan passion juga bukanlah suatu hal yang mudah. Bergelut dalam bidang IT yang mungkin asing bagi beberapa dari mereka yang abru bergabung dalam dunia IT. Hilang arah dan bingung dalam perjalanannya, sehingga membuat perjalanan menemukan passion menjadi lebih sulit. Namun, jangan lupa bahwa tidak ada yang akan berhasil ditemukan jika tidak ada usaha. Dalam contoh kali ini, beberapa hari yang lalu tepatnya Kamis, 04 Juni 2020 Teknik Informatika UNPAS menyelenggarakan talkshow online. Keadaan yang saat ini masih mengharuskan di rumah saja tidak membuat para narasumber, host, dosen, mahasiswa, dan audience menjadi surut semangatnya. Talkshow yang diadakan melalui video conference zoom dan live youtube dengan judul “How To Find The Passion(Of Coding)” ternyata menarik banyak audience. Host talkshow tersebut ialah Bapak Erik, ST., M.Kom beliau adalah salah satu dosen sekaligus alumni Teknik Informatika UNPAS. Narasumber juga merupakan dosen dan Alumni Teknik Informatika UNPAS, yaitu Bapak R. Sandhika Galih Amalga, ST., MT dan Bapak Hendra Komara. ST., MT. Beliau-beliau membagikan pengalaman perjalanannya untuk menemui passion. Banyak yang menarik dari apa yang dijelaskan oleh narasumber dalam talkshow tersebut. Salah satu dari banyak hal yang menariknya adalah pertanyaan yang diberikan oleh Pak Erik yaitu “Kenapa Pak Hendra dan Pak Sandhika memutuskan untuk mengajar di Teknik Informatika UNPAS?” Kurang lebih jawaban yang diberikan Pak Hendra adalah pada mulanya beliau bekerja di Jakarta, mengembangkan aplikasi perbankan. Kemudian diajak oleh bu Ririn untuk menjadi asisten mata kuliah mengenai Pemrograman Berorientasi Objek. Lalu akhirnya pada 2009 memutuskan untuk menetap mengajar, karena merasa dengan mengajar beliau tumbuh lebih baik dengan banyak orang, memperluas ilmunya dari berbagai sumber. Juga karena alesan ingin lebih banyak mendidik anak-anak untuk dapat mengembangkan sebuah aplikasi. Sedangkan jawaban yang diberikan pak Sandhikan adalah beliau mendapatkan tawaran mengajar ketika ingin meminta surat rekomendasi untuk pendidikan S2 nya. Karena beliau suka mengajar dan ngoding, tentu hal tersebut adalah tawaran yang baik sehingga diambil tawaran tersebut. Menempuh pendidikan S2 sambil mengajar yang disukai.

Sebelum menemukan sebuah profesi yang sesuai dengan passion pun tentunya para narasumber menempuh proses yang tidak sebentar dan tidak mudah. Akses belajar yang saat itu belum seluas sekarang pun tidak jarang menjadi sebuah tantangan, belum lagi bahasa pemrograman yang saat itu belum semaju sekarang. Pada mulanya pun yang digemari oleh Pak Sandhika adalah Graphic Desaigner, namun seiring berjalannya waktu ketika menemui web design beliau menjadi lebih tertarik dengan hal tersebut. Sehingga pada akhirnya digeluti sampai sekarang ini bidang Web Desaign tersebut.  Sedangkan Pak Hendra menyampaikan bahwa dirinya ingin menemukan sesuatu yang berbeda dari teman-temannya namun tetap menarik dan worth it untuk dijalani. Akhirnya beliau pun menggeluti mengenai Pendekatan Berorientasi Objek, dan kedua narasumber berlabuh menjadi dosen. Bahkan ketika sudah menemui passion pun bukan tidak mungkin masih menemui sebuah duka. Pak Hendra dan Pak Sandhika sama-sama berpendapat bahwa suka menjadi dosen ialah bangga ketika melihat anak didiknya mengerti, paham dan dapat menyelesaikan tugas serta pendidikannya dengan baik, juga bangga melihat anak didiknya dapat lebih unggul dari mereka. Untuk dukanya kedua narasumber mengatakan adalah ketika anak-anak yang mereka ajari, mereka didik tidak paham dengan apa yang mereka geluti dan jalani, terlebih lagi ketika mereka menyerah.

Dalam menemukan passion, kegigihan dan niat menjadi sangat penting. Mengapa begtiu? Agar ketika menemui rintangan maka tidak ada kata menyerah. Lalu ketika sudah bertemu dengan passion yang ada di dalam diri kita masing-masing, maka tetap akan ada suka dan dukanya. Jadikan suka dan dukanya sebagai warna-warni perjalanan, jangan malah menjadikan dukanya saja sebagai alasan untuk berhenti ketika menekuni passion yang sudah susah payah disadari dan ditemukan. Bahan membaca kali ini, semoga memotivasi untuk teman-teman yang sedang berproses untuk menemukan passionnya, juga untuk teman-teman yang sedang mencoba bertahan dan berkembang dengan passionnya.