Pengertian dan Tips menerapkan Psikologi Marketing

Fakultas Teknik UNPAS – Dalam memasarkan sebuah produk atau jasa, kamu memerlukan strategi marketing yang cukup ampuh untuk menarik konsumen agar tertarik dengan produk yang ditawarkan.

Banyak strategi marketing yang dapat kamu terapkan salah satunya adalah psikologi marketing, strategi ini berhubungan dengan mental seseorang khususnya dalam pengambilan keputusan saat membeli jika dikaitkan pada marketing.

Pengertian Psikologi Marketing

Psikologi Marketing adalah strategi pemasaran yang mempelajari psikologi audiens dalam memandang suatu produk. Strategi ini memanfaatkan perasaan audiens untuk mempengaruhi emosi serta tindakan dalam mengambil keputusan terkait produk yang ditawarkan.

Tujuan dari psikologi marketing sendiri adalah memahami motivasi emosional audiens dalam mempertimbangkan suatu produk. Bisa dari promo seperti diskon, flash sale, kupon atau kemudahan serta kenyamanan saat berbelanja.

Strategi ini dinilai ampuh untuk menarik audiens karena sifatnya yang melekat pada psikologi seseorang, namun strategi ini sulit untuk diterapkan karena banyaknya pesaing yang menggunakan strategi serupa.

Tips Psikologi Marketing

Agar strategi marketing yang akan kamu terapkan berjalan dengan lancar, kamu memerlukan beberapa tips yang dapat kamu terapkan pada strategi psikologi marketing sebagai berikut.

1. Bangkitkan emosional audiens

Menurut beberapa pakar neuroscience, emosi merupakan unsur yang diperlukan dan paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian.

Bangun hubungan baik dengan audiens agar mereka merasa nyaman terhadap pelayanan yang kamu berikan, kamu harus bisa memposisikan diri sebagai teman yang memberikan nasehat terbaik terhadap audiens.

Kamu mungkin pernah mengalami kondisi dimana kamu lebih memilih produk yang sedikit lebih mahal dengan pelayanan yang baik ketimbang produk murah dengan pelayanan yang buruk.

Secara kita sedang membicarakan produk yang sama hanya berbeda pelayanannya saja, namun faktanya audiens lebih memilih produk yang sedikit lebih mahal.

Selain itu, dengan pelayanan yang baik kamu akan membuka peluang terhadap konsumen untuk melakukan repeat order.

2. Perlihatkan Bukti Sosial

Apa yang ada di pikiranmu ketika melihat restoran dengan jumlah antrian yang cukup panjang ? atau ketika kamu melihat sebuah produk makanan dalam market place dengan jumlah pembelian diatas 1000 produk.

Kamu pasti berpikir “dengan antrian atau jumlah pembelian sebanyak itu sudah pasti makanan yang ditawarkan sangatlah enak”, pemikiran tersebut adalah contoh manifestasi dari bukti sosial.

Apalagi jika kamu menawarkan produk atau jasa secara online, bukti sosial sangatlah penting untuk membangun kepercayaan audiens.

Kamu akan lebih memilih marketplace dengan riwayat transaksi diatas 100 ketimbang riwayat transaksi yang hanya puluhan.

3. Bangkitkan kesan Fomo pada audiens

Fear of Missing Out atau FOMO merupakan istilah yang cukup populer dan sering kita gunakan saat ini untuk mengisyaratkan seseorang yang takut ketinggalan.

Salah satu penerapan FOMO pada saat pemasaran produk adalah dengan munculnya tulisan “jangan lewatkan!” pada iklan. Orang dengan karakter fomo akan mudah terpancing dengan tulisan semacam itu.

Promo, kupon terbatas, flash sale, limited edition adalah beberapa contoh lain yang dapat kamu terapkan pada strategi marketing, dengan membuat urgensi penjualan pada suatu produk secara tidak sadar audiens akan berlomba-lomba untuk membeli produk yang ditawarkan.

4. Gunakan teknik Resiprokal

Resiprokal merupakan sebuah sifat untuk saling berbalasan, saat seseorang memberimu sesuatu secara sadar atau tidak sadar kamu merasa terdorong untuk mengembalikan sesuatu pada pada orang tersebut.

Salah satu pengaplikasian dari teknik resiprokal adalah dengan membagikan sampel produk secara gratis pada audiens. Dalam pemasaran produk digital teknik ini cukup ampuh diterapkan karena dapat memberikan pengalaman langsung terhadap pengguna.

Misalnya, kamu dapat menawarkan software trial 30 hari kepada audiens agar mereka dapat mencobanya terlebih dahulu, setelah masa trial habis dan mereka merasa cocok dan butuh, mereka tidak akan ragu untuk membeli software tersebut.

Atau cara lain seperti membatasi fitur software pada versi gratis, jika ingin mendapatkan fitur penuh maka harus membeli versi pro. Cara-cara seperti itu sering dijumpai pada toko-toko yang menjual software.

5. Manfaatkan Goldilocks Effect

Istilah Goldilocks Effect bermula dari kisah seorang yang bernama Goldilocks, ketika dia menemukan 3 jenis bubur dia memilih yang tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, tetapi tepat.

Konsumen sering sekali mengalami goldilocks effect saat berbelanja di toko swalayan, mereka sering membanding barang yang sama hanya berbeda dari segi fitur dan harga.

Walaupun saat ini sudah banyak produk yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen namun tetap saja perbandingan ini selalu dilakukan guna mencari produk yang pas atau sesuatu dengan keinginan konsumen.

Salah satu bentuk pemanfaatan Goldilocks Effect adalah saat kamu ingin membeli sebuah paket data dimana tidak ada satu paketmu yang membuatmu cocok baik dari sisi harga maupun paket data yang ditawarkan.

Oleh karena itu provider memberikan opsi untuk memilih paket data suka-suka dimana kamu bisa menentukan berapa total data serta lama masa aktif yang kamu inginkan.

Dengan begitu, konsumen akan lebih leluasa dalam menentukan apa yang mereka mau atas produk yang kamu tawarkan.

 

Source :

jurnal.id/id/blog/tips-penerapan-psikologi-marketing/

niagahoster.co.id/blog/apa-itu-marketing/

glints.com/id/lowongan/apa-itu-marketing/